Alim Arsad bersama Eugenia Agatha Rondonuwu, dua penggerek Sang Saka Merah Putih asal Sulawesi Utara.

Cerita Alim Arsad, Sang Penggerek Bendera Pusaka Anak Penambang Pasir Tulondadu

Nasib orang tiada yang bisa menebak. Kalimat ini cukup tepat menggambarkan remaja asal Desa Tulondadu, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

Tentunya, menjadi bagian dari tim Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka di Istana Negara, mungkin bukan cita – cita Alim Arsad selama ini. Meski berasal dari keluarga pas-pasan, bukan berarti Alim tak dapat bersaing dengan remaja seumuran dirinya.

Remaja kelahiran 23 Juni 2003 silam, kini tidak bisa dianggap sebelah mata. Di pundaknya, Alim menyopoh beban besar. Mengharumkan nama Bumi Nyiur Melambai di kancah nasional, kini tugas berat yang akan ia emban pada 17 Agustus kelak.

Beban ini, mungkin dianggap mustahil bagi remaja kebanyakan seumuran Alim yang tengah mengenyam pendidikan, di bangku kelas dua, SMA Negeri 1 Bolaang Uki. Walau demikian, dibalik lolosnya Alim Arsad ini, tak lantas dipisahkan dari peran kedua orang tuanya.

Nani Arsad  menceritakan, kala hendak dipanggil mengikuti seleksi Alim tengah bersamanya di kebun mencari sesuap nasi. Pria paruh baya ini, bekerja serabutan. “Kalau Alim sedang di rumah,saya ajak ia ikut kerja harian, menambang pasir dan ke kebun. Pendapatan kami sehari hanya mendapat upah 100 ribu rupiah. Biasanya Alim saya ajak saat hari libur pada Sabtu dan Minggu,” tutur Nani.

 

Pekerjaan itu sudah lama ia tekuni. Walau tidak berpenghasilan tetap, ini ia lakukan untuk menghidupi keluarganya. “Selain menambang pasir dan menggarap lahan perkebunan tetangga, Alim juga biasa membantu saya menjadi kuli bangunan,” kata dia.

Kini, Alim putra keduanya sudah punya tugas baru nan berat. Nani punya harapan sebagai orang tua, kelak prestasi ini mengharumkan kampung halamannya. “Pesan saya ke Alim, tetap sehat-sehat saja selama melakukan latihan,” ujarnya.

Tak menyangka putranya lolos sebagai Paskibraka, Rita Adiyunu pun mengaku bangga lantaran Alim tercatat sebagai pelajar pertama asal Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, yang mewakili Sulawesi Utara sebagai penggerek bendera pusaka.  “Fokus latihan. Insya Allah sehat-sehat, kerja yang baik membawa nama daerah,” imbuhnya.

Kebanggaan kedua orang tua Alim Arsad, ternyata ikut dirasakan sejumlah pihak. Irsan Gobel, misalnya. Mantan pelatih saat Alim perdana ikut seleksi paskibraka tingkat kabupaten, menuturkan, sejak awal punya keyakinan bahwa Alim memiliki kriteria sebagai penggerek bendera.

“Pada saat seleksi tingkat kabupaten, pertama kali terpilih untuk ikut seleksi tingkat propinsi dan nasional. Saya dapati, anak itu kesehariannya suka bantu-bantu orangtuanya untuk cari uang. Jadi, waktu kami memanggilnya, ia persis membantu ayahnya di kebun,” ungkap Irsan.

Tak sampai disitu, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan pun berbesar hati atas capaian Alim Arsad. Seperti diutarakan, Marwan Makalalag, Ketua Tim Pelatih, mengaku, cukup puas atas prestasi yang berhasil dicapai Alim Arsad. “Kami tim pelatih sanggat bangga. Seleksi peserta kurang lebih seratus orang di tingkat kabupaten, anak itu termasuk anak yang pintar. Orangtuanya petani, layak berbangga dengan prestasi putra mereka,” ucapnya.

Nantinya, Alim Arsad bersama Eugenia Agatha Rondonuwu, pelajar SMA Negeri 1 Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, akan bertugas sebagai pengerek Sang Saka Merah Putih saat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, di Jakarta. Udhay Djaman/Iskandar Z Ahmad

748